SAYYANG PATTUDU, TRADISI UNIK KHATAM AL-QUR’AN DARI SUKU MANDAR

Polewali Mandar, 4 April 2023 – Suku Mandar adalah suku besar yang ada di Sulawesi Barat dengan kebudayaan yang tidak kalah menarik namun masih jarang diketahui oleh banyak orang. Tradisi atau kebudayaan yang berasal dari suku Mandar juga bermacam-macam, seperti pakaian, perayaan, makanan hingga berbagai upacara adat. Salah satu tradisi yang masih sangat eksis di kalangan masyarakat Mandar hingga sekarang yakni Sayyang Pattudu.


Sayyang Pattudu atau dalam bahasa Indonesia yakni “kuda penari” adalah tradisi yang pasti sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakat Mandar. Tradisi ini diadakan oleh masyarakat sebagai bentuk syukuran bagi anak-anak pengkhatam Al-Qur’an sebanyak 30 Juz. Selain itu tradisi Sayyang Pattudu juga biasanya diadakan setiap tahunnya untuk memperingati hari besar Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini tentunya juga menjadi motivasi bagi anak-anak untuk segera mengkhatam Al-Qur’an.


Diperkirakan tradisi ini mulai dilakukan saat islam mulai masuk ke tanah Mandar. Namun, awalnya tradisi ini hanya dilakukan oleh para bangsawan dari kerajaan Balanipa tepatnya pada masa pemerintahan raja ke-IV. Seiring berjalannya waktu masyarakat akhirnya juga mulai melakukan tradisi ini. Kini tradisi Sayyang Pattudu sudah menjadi tradisi yang pengadaannya sering dijumpai di Sulawesi Barat.

Tradisi Sayyang Pattudu dilakukan dalam bentuk arak-arakan. Penunggang Sayyang Pattudu akan dibawa mengelilingi kampung atau desa dengan diiringi musik rebana. Biasanya akan ada beberapa orang yang memainkan rebana untuk mengiringi kuda menari selama arakan berlangsung. Para pemain rebana ini disebut Parrawana. Selain itu, ada juga satu atau beberapa orang yang akan memberi kalindaqdaq atau pantun dalam berbahasa Mandar yang ditujukan untuk penunggang Sayyang Pattudu.

Sayyang Pattudu biasanya tidak hanya ada satu kuda, Namun ada dua sampai beberapa ekor kuda. Bahkan saat pengadaan dalam rangka memperingati hari Maulid Nabi Muhammad SAW atau pengadaan untuk festival budaya biasanya ada sampai ratusan ekor kuda. Salah satunya seperti festival Sayyang Pattudu yang baru-baru ini dilaksanakan di Stadion HS Mengga, Kecamatan Polewali, Kabupaten Polewali Mandar pada tanggal 23 Mei 2022. Sebanyak 175 ekor kuda dengan ribuan peserta yang ikut memeriahkan festival tersebut. Ribuan peserta tersebut termasuk Pesayyang, Disayyang, Pesarung, Parrawana, dan Kalindaqdaq. Para peserta tersebut berasal dari setiap kecamatan yang ada di kabupaten Polewali Mandar dan tentunya dari berbagai kalangan usia, anak-anak SD, SMP, SMA hingga orang dewasa.


Salah satu peserta dari festival Sayyang Pattudu saat itu, Nilda Mursalim mengungkapkan bahwa festival ini adalah festival budaya yang diadakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Polewali Mandar yang dinilai langsung oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).
“Kemarin itu adalah festival budaya yang diadakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan juga dinilai langsung oleh UNESCO karena akan menjadi budaya warisan dunia,” ucapnya.


Lebih lanjut ia juga menuturkan tanggapan dan harapannya mengenai diadakannya festival Sayyang Pattudu agar bisa menjadi agenda tahunan untuk memperkenalkan kebudayaan Mandar lebih luas lagi dan lebih dikenal oleh kalangan muda di era modern saat ini.
“Sangat banyak manfaat dari diadakannya festival budaya seperti festival Sayyang Pattudu ini, budaya Mandar semakin dikenal dunia dan semoga festival Sayyang Pattudu masuk di agenda tahunan karena dengan adanya festival tersebut generasi-generasi muda akan mengenal apa itu Sayyang Pattudu meski di era modern seperti saat ini,” tuturnya.

Foto: Festival Sayyang Pattudu di Stadion HS Mengga, Polewali Mandar, Senin, 23 Mei 2022.
Sumber: Instagram @irwan_syamsir

Shindy

Shindy

Tinggalkan Balasan